Egie'sWorlD

You Make Me Perfect

Jakarta

Hari ini langit cerah. Ga seperti dua hari kemarin, cuaca mendung menggelayut manja sampe sore. Secangkir kopi hangat menemani gw hari ini. Aroma khasnya membelai belai rongga hidung dan menggelitik saraf-saraf hayal otak gw. Ya, saraf hayal gw langsung bangun, duduk manis dan tanpa basi-basi langsung nanya ke gw ” bagaimana menurut loe nasib Jakarta sepuluh tahun kedepan?” “Apa?” Jawab gw. Gila aja nich, pagi-pagi dah ditanya yang aneh-aneh. Sontak gw jawab “mana gw tau. Ancur kali” hah! Gw pun terkejut dgn jawaban gw sendiri. Kok bisa gw jawab ancur? Kenapa?

Bagi para penduduk Jakarta, melihat sampah berenang renang di kali yang hitam merupakan pemandangan rutin. Juga, di sepanjang jalan, trotoar, pasar bahkan Mall. Sampah dengan begitu bebasnya mejeng. Ketika musim hujan dan banjir datang barulah kita panik. Kemana akal sehat kita sampai hal ini dibiarkan?

Melihat kondisi jalanan pun sebelas dua belas dengan keadaan sampah. Dimana jalan-jalan di Jakarta yang ga macet? Sedikit. Mungkin jalan depan rumah yng enggak kena macet 🙂
Kondisi jalan di Jakarta sudah di luar kata wajar. Macet dimana mana. Pengendara yang sewenang-wenang bawa kendaraaannya. Kesemrawutan ini memicu orang untuk seenak jidatnya melanggar rambu-rambu jalan. Coba tengok seputar terminal kampung melayu, atau depan pasar Pramuka. Bahkan coba pula lihat di sekitar jalan-jalan lainnya. Gimana? Ancur A.K.A semrawut atau sinonim dengan Chaos. Kemacetan cuga terjadi tanpa memandang waktu. Hampir tiap saat jakarta terserang macet. Penyebabnya bermacam-macam, dari ruas jalan yang kian terasa sempit akibat bertambahnya jumlah kendaraan yng beroperasi, dan yang terutama adalah kian menurunnya kedispilinan pengguna kendaraan baik umum maupun pribadi. Hampir di tiap-tiap ruas jalan kita menemukan kendaraan yang parkir di pinggir jalan. Lihatlah di jalan Panglima Polim atau ruas-ruas daerah lainnya .

Kalau mau diurut-urut pangkal masalahnya ini seperti benang kusut. Pemerintah seolah-olah kehabisan akal untuk mengatasinya. Kita pun dipaksa untuk menerima keadaan yang sedemikian semrawutnya dengan sabar. Yap, ‘sabar mas’ oceh pengendara motor, ‘sabar woy’ oceh supir angkot yang sedang menurunkan penumpang di tengah Jalan Otista. Hmmm.. Kita dipaksa sabar. Untuk apa? Apa ada tindakan? Bersabar karena ada tindakan menunggu hasil itu bagus tapi bersabar karena menunggu tanpa adanya tindakan, itu yang namanya kurang ajar..

Pemerintah pun dibuat pening atas persoalan-persoalan yang kerap menjadi gurita dan sulit ditaklukkan. Pemerintah terutama PEMDA dan PEMPROV kelimpungan bagaimana cara mengatasi sampah, macet dan hal-hal lainnya…
Ini semakin bertambah parah ketika masyarakat akhirnya tak mau ambil peduli terhadap permasalahan ini…

Okeh.. Kopiku sudah habis.. Saatnya beranjak mandi. Biar saja hayalku ngoceh sendirian didalam otakku yang sempit dan gelap ini..

Soal solusi bagaimana cara kita menghadapi permasalahan ini, marilah sedikit kita merenung tentang apa itu hidup layak dan bagaimana cara hidup layak.. :))

Posted with WordPress for BlackBerry.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: